Posted on

“Emh. Jadi, ada sebuah pertikaian antara kerajaan dan anggota Proditor. Akar dari pertikaian itu adalah, terbunuhnnya salah satu anggota Kepresidenan Proditor, yang dibunuh oleh Orang kerajaan. Nah, setelah diteliti lebih lanjut selama nyaris satu bulan, ternyata yang membunuh beramai ramai! Dia terbunuh ketika sedang bermain bersama anaknya. Ya, tentu teman, sahabat, dan kerabatnya protes. Awalnya hanya keluarga dan kerabatnya saja yang mengkritik, dan akhirnya selesai, damai. Tapi baru baru ini ada fitnah yang ditujukan kepada Kerajaan, bahwa pembunuhan ini sengaja dilakukan. Agar pihak Kepresidenan Proditor mengamuk. Tentu, fakta ini tidak benar. Dan, itulah yang menyebabkan pertikaian kami.”

“Ya. Baiklah, kalau begitu. Tapi, aku belum menemukan yang berhubungan denganku, maaf.” Dari semua penjelasan Ficus, aku masih bingung kenapa aku, atau tepatnya kami diculik.

“Karena, kalian memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain—”

“Hei, Ali. Kau belum menerjemahkannya untukku sedari tadi!”

“Diam dulu. Nanti di rumah kuberi tahu.”

Oh, sampai lupa aku. Kami diberi penginapan seperti rumah oleh Raja Ficus. Rumahnya keren sekali. Lebih dari yang diimpikan teman sekamarku di pesantren.

“Ehem. Baik saya lanjutkan. Kalian memiliki kekuatan, tapi tunggu dulu. Memiliki kekuatan disini maksudnya tubuh kalian kompatibel dengan alat alat berteknologi tinggi yang memiliki kemampuan untuk menembakkan listrik atau pukulan yang lebih sakit seratus kali lipat. Dan jika saya menjelaskan teknologi itu, khawatir kalian tidak paham.”

“Eh Ali, aku lupa ngasih tau, aku nanti kelas delapan enggak di pesantren lagi.”

Hadeuuh. Si Zia gak bisa fokus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *