Posted on

Baiklah, sekarang waktunya bagi kami untuk pergi kursus. Kursus bahasa tentunya. Di sana ada banyak pilihan bahasa. Mulai dari Bahasa Inggris, Arab sampai Swahili pun ada. Lengkap. Tetapi walaupun ada banyak pilihan bahasa disana, kami hanya memilih Bahasa Arab. Kenapa bukan Inggris? Padahal kan itu yang umum. Karena kami sudah mendapat pelajaran bahasa tersebut sewaktu disekolah.

“Oi, Li. bengong mulu? Ayo jalan. Lampunya nanti keburu merah lagi, lho”

“Eh, eh. Iya, yuk cepetan” haha untung saja di ingetin sama Zia. Oh ya. Kalian, kan belum terlalu kenal sama Zia. Dia orangnya rajin-rajin-males gitu. Tapi smart banget. Aneh kan? Emang. Biasanya kan aku suka ngedeketin orang pinter biar ketularan pinternya. Eh, tapi pas aku deketin kok aneh, sih. Malesnya sejagat raya. Waaah, jadi bingung aku. Tapi karena udah terlanjur deket jadinya ya seru seru aja.

Tapi seketika, sikap pemalas Zia berubah menjadi takut. Kami melihat sosok bertubuh gempal dengan wajah acak acakan sedang memelototi kami. Jika kalian bisa melihat sendiri rupa orang itu kalian akan ikut bergidik ngeri juga. Memang, tampangnya menunjukan kewibawaan, kilat matanya seperti kesatria. Tapi dengan belati di tangan lain lagi ceritanya.

Kali ini sosok bertubuh gempal itu mendekati kami. Oh, betapa takutnya kami melihatnya. Kaki kami tidak bisa digerakkan. Seperti ada batu yang menahan kaki kami.

Kali ini dia menggeram. Entah apa yang diucapnya, mungkin jampi. Tapi pada saat itu juga aku mengerti apa yang diucapkan olehnya.

“Wahai, kalian harus ikut denganku. Tempat kalian bukan disini. Ayo cepat!”

“Kami takkan ikut denganmu” Zia menatapku heran. Aku pun balas menatapnya.

“Hei Ali. Kamu kenapa ikut menggeram?” bisiknya ” Aku pun tak tahu. sudahlah diam dulu!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *